Mengenang Almarhum Ramanda Imam Ashari, Purna Ketua Kwarda HW Kabupaten Blitar
0 minutes read
| Pemakaman Almarhum Ramanda Drs. Imam Ashari, Purna Ketua Kwarda HW Kabupaten Blitar, Rabu (23/10/2024). |
Kabar duka menyelimuti keluarga besar Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (GKHW) di Blitar. Ramanda Drs. Imam Ashari, tokoh yang pernah menjabat sebagai Ketua Kwartir Daerah Hizbul Wathan (Kwarda HW) Kabupaten Blitar, wafat pada hari Rabu (23/10/2024) pukul 00.16 WIB dalam usia 62 tahun setelah berjuang melawan penyakit yang telah lama dideritanya.
Semasa hidupnya, Ramanda Imam Ashari dikenal sebagai sosok yang berperan penting dan terkemuka dalam membesarkan GKHW di Blitar. Lebih dari dua dekade, ia mendedikasikan dirinya untuk dunia pendidikan dan gerakan kepanduan Muhammadiyah.
Berbagai amanah strategis pernah diembannya, di antaranya sebagai Kepala SMA Muhammadiyah Kota Blitar pada periode 1996 hingga 2005 dan 2008 hingga 2012, Wakil Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Blitar tahun 2005 hingga 2010, Kepala SMK Muhammadiyah Kota Blitar tahun 2017 hingga 2020, serta Ketua Kwarda HW Kabupaten Blitar pada periode 2018 hingga 2022.
Usai kabar wafatnya menyebar, para pelayat berdatangan menuju rumah duka yang beralamat di Jalan Akasia RT. 03 RW. 06 Desa Dandong, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Sejak sebelum pukul 08.00 WIB, rumah duka telah dipadati keluarga, sahabat, serta rekan-rekan seperjuangan. Pada saat itu, jenazah telah Dishalatkan sebelum kemudian diberangkatkan menuju tempat pemakaman dengan tradisi setempat.
Prosesi penghormatan terakhir berlangsung khidmat dengan iringan doa. Sejumlah tokoh masyarakat turut hadir, bersama pengurus dan anggota Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota dan Kabupaten Blitar, serta Kwarda HW Kota dan Kabupaten Blitar. Perjalanan menuju tempat pemakaman umum juga dikawal oleh anggota Hizbul Wathan Blitar. Jenazah diberangkatkan menggunakan Mobil Ambulans dari Rumah Sakit Muhammadiyah yaitu RS Aminah Blitar.
Salah satu pengurus Kwarda HW sekaligus pelatih HW, Nurwahyuni, S.Pd., menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam atas wafatnya Ramanda Imam Ashari. “Ramanda Imam bukan hanya seorang pemimpin, tetapi juga guru dan ayah bagi kita semua. Keteladanan beliau dalam mendidik dan menginspirasi generasi muda akan selalu dikenang,” ujarnya.
Dedikasi dan konsistensi Ramanda Imam dalam mengembangkan program pendidikan karakter melalui Hizbul Wathan menjadikannya sosok yang dihormati oleh banyak pihak, baik di lingkungan Muhammadiyah maupun masyarakat luas. Bagi mereka yang mengenalnya, jasa-jasanya akan selalu hidup dalam ingatan, terutama dalam membimbing generasi muda agar tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, disiplin, dan berjiwa sosial.
Pengabdian almarhum sejalan dengan motto Hizbul Wathan, Fastabiqul Khairat, yang berarti berlomba-lomba dalam kebaikan, sebuah nilai yang terus diwariskan Ramanda Imam Ashari hingga akhir hayatnya.
Dalil dari Al-Qur’an:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya: “Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu. Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini ada kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar Ayat 10).
Ayat ini menjadi dasar anjuran bersabar saat tertimpa musibah, yang menjadi inti dari takziah.
Dalil dari Hadits Shahih:
مَنْ عَزَّى مُصَابًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ
Artinya: “Barang siapa yang bertakziah kepada orang yang tertimpa musibah, maka baginya pahala seperti pahala orang tersebut.” (HR. At-Tirmidzi, dinyatakan Hasan Shahih).
Hadits ini menunjukkan keutamaan takziah sebagai bentuk empati, penguatan hati, dan kepedulian sesama muslim.
Takziah merupakan amalan mulia yang mengandung nilai ukhuwah, kepedulian sosial, serta penguatan iman dalam menghadapi musibah.
Penulis: Agus Fawaid