TERBARU


3 Jenis Masjid yang Dikunjungi Tim Safari Ramadan


Masjid Al Amin, Sumberingin, Sanankulon. Dok/tim safari


Mobil berjalan pelan menyusuri jalanan gelap di wilayah Blitar Selatan. 

Dari Kanigoro ke Wates, Wonotirto, Binangun, kadang sampai pesisir selatan. 

Lampu masjid terlihat dari jauh. Seperti titik-titik cahaya yang tidak mau kalah oleh sunyi.

Beberapa tahun terakhir saya ikut Safari Ramadan yang digelar PDM Kabupaten Blitar.

Namanya safari. Tapi rasanya lebih seperti belajar diam-diam.

Belajar tentang masjid.

Belajar tentang jamaah.

Belajar tentang kenyataan yang tidak selalu hitam-putih.

Ternyata tidak semua masjid yang kami kunjungi adalah masjid milik Muhammadiyah. 

Dalam arti wakafnya atas nama persyarikatan. Asetnya tercatat resmi. Sertifikatnya jelas.

Tidak.

Ada yang bukan aset Muhammadiyah. Tapi afiliasinya Muhammadiyah. 

Pengurusnya kader. Khatibnya aktivis. Jamaah intinya keluarga besar Muhammadiyah. 

Hanya saja tanahnya milik keluarga, atau pengelolanya di bawah yayasan tersendiri.

Di titik ini saya belajar bahwa gerakan tidak selalu identik dengan papan nama.

Ada juga masjid umum. Milik negara. Berdiri di tanah pemerintah desa. 

Tapi takmirnya kader Muhammadiyah. Pengelolanya orang-orang yang tumbuh dari pengajian cabang dan ranting.

Masjid seperti ini juga kami datangi.

Di situ saya belajar membedakan tiga jenis masjid.

Bukan untuk membeda-bedakan. Tapi untuk memahami.

Karena beda kepemilikan, beda juga pendekatannya.

Kondisi jamaahnya tidak sama.

Ada masjid yang jamaahnya mayoritas warga Muhammadiyah. 

Mereka paham manhaj. Paham istilah. Kalau bicara tarjih, atau hal-hal berkaitan dengan organisasi, tidak perlu banyak pengantar.

Tapi ada juga masjid dengan jamaah umum. Campur. Ada yang datang karena kebiasaan keluarga, atau karena dekat dari rumahnya.

Materinya tidak bisa sama.

Kalau kita memaksakan satu gaya untuk semua tempat, mungkin tidak terlalu efektif.

Saya beberapa kali melihat bagaimana materi ceramah diubah di detik-detik terakhir, karena melihat siapa yang duduk di shaf depan, karena mendengar logat jamaah ketika menyapa.

Di masjid aset Muhammadiyah, pembicaraan bisa lebih internal. Soal gerakan. Soal amal usaha. Soal konsolidasi organisasi.

Di masjid afiliasi, nadanya lebih persuasif. Menguatkan rasa memiliki.

Di masjid umum milik negara, pesannya lebih universal. Soal akhlak. Soal kebersamaan. Soal merawat ruang ibadah sebagai milik bersama.

Akhirnya, safari ini bukan sekadar agenda rutin Ramadan.

Ini ruang silaturahim yang bagus untuk menyapa akar rumput dengan beragam dinamikanya.

Orang-orang yang jarang bertemu jadi duduk satu karpet. Pengurus daerah bisa menyapa takmir ranting. Jamaah bisa merasa diperhatikan.

Tidak ada panggung megah, hanya mimbar, mikrofon, secangkir keakraban yang hangat setelah tarawih.

Muhammadiyah, saya kira, memang harus merawat masjid dan jamaahnya. 

Bukan hanya yang tercatat sebagai aset resmi. Tapi juga simpatisan. Juga yang kulturalnya, yang merasa dekat meski tidak selalu hadir di forum formal.

Gerakan ini besar karena jaringan rasa memiliki.

Dan ke depan, saya justru melihat sesuatu yang menarik.

Bagaimana jika jumlah masjid afiliasi Muhammadiyah itu terus bertambah?

Bukan karena diakuisisi.

Bukan karena direbut.

Tapi karena dikelola dengan baik. Karena kadernya dipercaya. Karena jamaah merasa nyaman.

Masjid-masjid yang mungkin sertifikatnya bukan atas nama persyarikatan, tapi ruhnya bergerak bersama.

Tiba-tiba terbayang peta Kabupaten Blitar dengan titik-titik cahaya itu.

Tidak semua nambor bertuliskan Muhammadiyah, tapi sebagian punya denyut yang sama. []

Tabik,

Ahmad Fahrizal Aziz


Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment