Jejak Panjang Dakwah HM. Yasin Sulthon, Dari Jambewangi ke Yogyakarta, Mengabdi untuk Muhammadiyah Hingga Akhir Hayat
0 minutes read
Nama HM. Yasin Sulthon bukan nama asing di kalangan warga Muhammadiyah Blitar.
Sosoknya tinggi besar, sorot matanya tajam, dan pembawaannya berwibawa.
Ia dikenal sebagai mubaligh yang tak kenal lelah, pendidik yang disiplin, sekaligus organisatoris tangguh yang mengabdi sejak dekade 1960-an.
HM. Yasin Sulthon lahir pada 1939 di Jambewangi, yang kini masuk wilayah Selopuro, dahulu bagian dari Wlingi, Kabupaten Blitar.
Ia merupakan anak ke-7 dari 12 bersaudara. Ayahnya seorang kepala desa sekaligus petani. Lingkungan keluarga besar dengan latar sederhana membentuk karakter Yasin kecil, terbiasa bekerja keras, mandiri, dan menghormati ilmu.
Setamat Sekolah Rakyat (SR), ia sebenarnya tidak berniat melanjutkan pendidikan ke jenjang menengah.
Di Wlingi saat itu hanya ada SG-B dan PGRI. Dua sekolah tersebut tidak menarik minatnya. Ia merasa belum menemukan arah pendidikan yang sesuai dengan panggilan hatinya.
Perubahan datang ketika seorang warga Wlingi yang bersekolah di Yogyakarta pulang kampung sambil membawa selebaran pendidikan.
Di era 1950-an, Yogyakarta sudah dikenal luas sebagai kota pelajar dan pusat pendidikan nasional. Informasi itu membangkitkan tekad Yasin untuk merantau.
Didampingi sang ayah, ia berangkat ke Yogyakarta naik bus. Mereka belum memiliki tujuan sekolah yang pasti.
Setibanya di kota itu, keduanya menumpang menginap di Masjid At-Taqwa Suronatan. Di tempat sederhana itulah babak baru kehidupan Yasin dimulai.
Takmir masjid menyarankan agar ia mendaftar ke Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta.
Yasin tertarik. Gedungnya megah untuk ukuran masa itu, bertingkat tiga. Di sana juga diajarkan bahasa Arab secara intensif, dan lulusannya memiliki peluang melanjutkan studi ke Mesir. Ia merasa menemukan arah.
Masuknya ke Muallimin menjadi titik awal keterlibatannya dengan Muhammadiyah. Di sekolah itu, ia mendapat bimbingan dari guru-guru berpengaruh, salah satunya HM. Djindar Tamimy.
Dari sang guru, ia belajar tentang pentingnya dakwah berbasis ilmu, kedisiplinan, serta penguatan akhlak dalam kehidupan bermasyarakat.
Setelah lulus dari Muallimin, Yasin melanjutkan pendidikan ke IAIN Sunan Kalijaga dengan mengambil program sarjana muda/BA.
Lingkungan akademik Yogyakarta memperluas wawasan keislaman dan intelektualnya. Ia tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga memahami peran sosial seorang ulama dan pendidik.
Selesai menempuh pendidikan, ia memilih pulang ke Blitar. Keputusan itu menjadi bukti komitmennya untuk membangun daerah asal.
Ia aktif menjadi mubaligh, mengisi pengajian di masjid dan mushola, khususnya di wilayah Wlingi dan Doko.
Medan dakwahnya tidak mudah. Banyak desa berada di kawasan pegunungan dengan akses jalan terbatas dan penerangan minim.
Dengan sepeda motor Suzuki, kemudian berganti Astrea, ia menembus jalanan gelap untuk menyampaikan ceramah.
Aktivitas itu dijalaninya tanpa keluhan, bahkan hingga usia tidak lagi muda.
Selain berdakwah, ia mengabdi sebagai guru di PGA Muhammadiyah. Dedikasinya dalam dunia pendidikan mengantarkannya menjadi kepala sekolah selama 15 tahun.
Di bawah kepemimpinannya, sekolah tidak hanya menekankan capaian akademik, tetapi juga pembinaan karakter dan kaderisasi Muhammadiyah.
Beberapa muridnya dikemudian hari juga aktif sebagai pendakwah dan aktivis Islam, khususnya melalui Muhammadiyah.
Kiprah organisasinya terus berkembang. Ia dipercaya menjadi Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wlingi pada 1980–1990.
Kepemimpinannya dikenal tegas namun terbuka. Setelah itu, ia menjabat Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Blitar periode 1990–1995.
Pada masa tersebut, penguatan dakwah dan pendidikan menjadi prioritas utama. Ia mendorong kaderisasi yang sistematis serta memperluas jangkauan kegiatan keagamaan hingga pelosok desa.
Setelah masa jabatannya berakhir, ia tetap aktif sebagai Wakil Ketua PDM Kabupaten Blitar hingga 2010, ketika PDM dipimpin Marmin Siswojo (Pak Sis).
Pada tahun 2005, Pimpinan Daerah Muhammadiyah di Blitar mengalami pemekaran menjadi PDM Kabupaten dan Kota Blitar.
Di luar struktur organisasi, kontribusinya juga nyata dalam pembangunan fisik. Ia terlibat dalam panitia pendirian Masjid Al Kautsar di Beru, tidak jauh dari tempat tinggalnya di sekitar Stasiun Wlingi. Masjid tersebut menjadi pusat kegiatan ibadah dan dakwah masyarakat sekitar.
Sejak 1960-an, HM. Yasin Sulthon tidak pernah lepas dari aktivitas Muhammadiyah. Ia menjadi saksi hidup perkembangan organisasi di Blitar, sekaligus pelaku utama dalam penguatan jaringan dakwah di tingkat akar rumput.
Pada Ahad, 1 Maret 2026 sekitar pukul 23.00 WIB, HM. Yasin Sulthon wafat. Kabar duka itu menyebar cepat di kalangan warga Muhammadiyah dan masyarakat Blitar.
Keesokan harinya, Jenazah diberangkatkan dari rumah duka menggunakan ambulans RSU Aminah. Prosesi pelepasan dilakukan oleh Ketua PDM Kabupaten Blitar, H. Sigit Prasetyo, SE.
Dalam sambutannya, H. Sigit Prasetyo menjelaskan jika Mbah Yasin, begitu beliau akrab disapa, adalah seorang pendakwah yang tangguh.
"Jika dibandingkan dengan beliau, kita belum ada apa-apanya, " Kenangnya.
Sesi doa pemberangkatan dipimpin oleh Ust. Hadi Mukhlison, pengasuh Pondok Pesantren Al Aqsho, Selopuro.
Mbah Yasin dimakamkan di Pemakaman Sasono Langgeng, Gedog, Kota Blitar.
Kepergian HM. Yasin Sulthon meninggalkan jejak panjang pengabdian. Ia bukan tokoh yang gemar mencari sorotan. Ia memilih bekerja dalam ketekunan, dari ruang kelas, mimbar pengajian, hingga ruang rapat organisasi.
Warisan terbesarnya bukan hanya jabatan atau bangunan fisik, melainkan keteladanan. Bahwa dakwah adalah kerja panjang. Pendidikan adalah investasi masa depan, dan pengabdian, bila dijalani dengan konsisten, akan selalu meninggalkan bekas dalam sejarah. []
Team Blitarmu
