TERBARU


Guru-Guru K.H. Ahmad Dahlan

Foto rekonstruksi masa remaja KH. Ahmad Dahlan dengan AI, bukan foto resmi.


Nama besar K.H. Ahmad Dahlan sering dikaitkan dengan pembaruan Islam di Indonesia. Namun, jauh sebelum mendirikan Muhammadiyah, sosok yang lahir dengan nama Muhammad Darwis ini terlebih dahulu menempuh perjalanan panjang dalam menuntut ilmu. 

Ia tumbuh di lingkungan ulama, belajar dari ayahnya sendiri, berguru kepada para kerabat yang ahli di bidang keislaman, hingga memperdalam pengetahuan di Makkah bersama ulama Nusantara dan Timur Tengah.

Gambaran mengenai perjalanan intelektual tersebut terekam dalam buku Cerita tentang Kiyai Haji Ahmad Dahlan karya Haji Muhammad Syoedja’, murid sekaligus kader langsung Ahmad Dahlan. 

Catatan ini menjadi salah satu sumber penting untuk memahami bagaimana fondasi keilmuan sang pendiri Muhammadiyah dibangun sejak usia dini.

Pendidikan Pertama Bersama Sang Ayah

Guru pertama Muhammad Darwis adalah ayah kandungnya sendiri, K.H. Abubakar. Beliau merupakan Khatib Amin Masjid Besar Yogyakarta sekaligus tokoh agama terpandang di Kampung Kauman.

Menurut catatan Haji Muhammad Syoedja’, pendidikan pertama Ahmad Dahlan berlangsung di rumah. Ayahnya mengajarkan dasar-dasar agama Islam, membaca Al-Qur'an, ibadah, hingga pembentukan akhlak.

Muhammad Darwis dikenal memiliki kecerdasan sejak kecil. Pada usia sekitar delapan tahun, ia telah mampu membaca Al-Qur'an dengan lancar hingga khatam. 

Kemampuan ini menjadi bekal penting sebelum ia mempelajari berbagai cabang ilmu agama yang lebih mendalam.

Peran K.H. Abubakar tidak berhenti ketika putranya mulai dewasa. Muhammad Darwis tetap menjadikan ayahnya sebagai tempat bertanya dan belajar dalam berbagai persoalan keagamaan. 

Hubungan sebagai ayah dan guru berjalan beriringan hingga membentuk karakter religius yang kuat.

Belajar Fiqih kepada K.H. Muhammad Saleh

Setelah menginjak usia hampir dewasa, Muhammad Darwis mulai mempelajari kitab-kitab fiqih kepada K.H. Muhammad Saleh.

K.H. Muhammad Saleh merupakan kakak ipar Muhammad Darwis. Rumahnya berdampingan dengan keluarga K.H. Abubakar di Kampung Kauman. Kedekatan tempat tinggal membuat proses belajar berlangsung lebih intensif.

Dalam catatan Haji Muhammad Syoedja’ disebutkan bahwa Muhammad Darwis mulai membuka kitab-kitab pelajaran fiqih di bawah bimbingan K.H. Muhammad Saleh.

Fiqih merupakan cabang ilmu yang membahas hukum Islam, mulai dari tata cara ibadah hingga persoalan muamalah. 

Penguasaan ilmu ini kelak terlihat dalam berbagai pandangan Ahmad Dahlan yang selalu berupaya mengembalikan praktik ibadah kepada dalil Al-Qur'an dan Sunnah.

Mendalami Nahwu Bersama K.H. Muhsin

Selain fiqih, Muhammad Darwis juga belajar ilmu nahwu kepada K.H. Muhsin.

K.H. Muhsin juga masih memiliki hubungan keluarga sebagai kakak ipar. Sama seperti K.H. Muhammad Saleh, rumahnya berada di lingkungan Kauman sehingga proses belajar berlangsung dalam suasana yang akrab.

Nahwu merupakan ilmu tata bahasa Arab yang menjadi kunci memahami Al-Qur'an, hadis, dan kitab-kitab klasik berbahasa Arab.

Tanpa penguasaan nahwu, seseorang akan kesulitan memahami makna teks secara tepat. Oleh karena itu, pelajaran ini menjadi fondasi penting bagi siapa pun yang ingin mendalami ilmu-ilmu keislaman.

Bekal nahwu yang kuat membantu Ahmad Dahlan memahami sumber ajaran Islam secara langsung, bukan hanya mengandalkan penjelasan orang lain.

Berguru kepada K.H. Muhammad Noor bin K.H. Fadlil

Perjalanan menuntut ilmu Muhammad Darwis tidak berhenti di lingkungan keluarga.

Ia juga berguru kepada K.H. Muhammad Noor bin K.H. Fadlil yang menjabat sebagai Hoofd Panghulu Hakim Kota Yogyakarta.

Walaupun Haji Muhammad Syoedja’ tidak menjelaskan secara rinci bidang ilmu yang diajarkan, posisi K.H. Muhammad Noor menunjukkan bahwa beliau merupakan ulama yang memiliki keahlian dalam hukum Islam dan peradilan agama.

Belajar kepada tokoh seperti ini memberi pengalaman yang lebih luas mengenai praktik hukum Islam di tengah masyarakat serta kehidupan keagamaan di lingkungan Kesultanan Yogyakarta.

Menimba Ilmu kepada K.H. Abdulhamid

Guru berikutnya yang disebut dalam catatan Haji Muhammad Syoedja’ adalah K.H. Abdulhamid dari Kampung Lempuyang Wangi, Yogyakarta.

Sumber tersebut memang tidak menjelaskan mata pelajaran yang dipelajari Muhammad Darwis secara rinci. Meski demikian, keberadaan nama K.H. Abdulhamid dalam daftar guru menunjukkan bahwa Muhammad Darwis aktif mendatangi berbagai ulama untuk memperluas wawasan keagamaannya.

Tradisi berpindah dari satu guru ke guru lain merupakan hal yang lazim dalam pendidikan pesantren pada masa itu. 

Setiap ulama memiliki kekhasan keilmuan sehingga seorang santri memperoleh pemahaman yang lebih kaya.

Perjalanan Ilmu Berlanjut di Makkah

Perjalanan intelektual Muhammad Darwis mencapai babak baru ketika menunaikan ibadah haji ke Makkah.

Di kota suci itu, ia tidak hanya beribadah, tetapi juga memanfaatkan kesempatan untuk belajar kepada banyak ulama.

Menurut Haji Muhammad Syoedja’, Muhammad Darwis rajin menghadiri majelis ilmu para ulama Indonesia yang telah lama menetap di Makkah. 

Selain itu, ia juga belajar kepada ulama Arab yang telah diperkenalkan oleh keluarganya sejak masih berada di Jawa.

Pada bulan Ramadhan, suasana keilmuan di Masjidil Haram semakin semarak. Banyak ulama membuka pengajian kitab yang diikuti para penuntut ilmu dari berbagai penjuru dunia Islam.

Lingkungan inilah yang mempertemukan Muhammad Darwis dengan pemikiran Islam yang lebih luas dan beragam.

Bertemu Para Ulama Nusantara di Tanah Suci

Haji Muhammad Syoedja’ menyebut beberapa nama ulama Indonesia yang menjadi bagian dari suasana keilmuan di Makkah.

Di antaranya adalah K.H. Makhfudz dari Termas, K.H. Nakhrawi atau Muhtaram dari Banyumas, serta K.H. Muhammad Nawawi dari Banten.

Para ulama Nusantara tersebut dikenal memiliki kedalaman ilmu dan menjadi rujukan bagi pelajar Indonesia yang datang ke Makkah.

Keberadaan mereka memperlihatkan bahwa sejak abad ke-19, jaringan keilmuan Islam antara Nusantara dan Timur Tengah telah berkembang dengan kuat.

Muhammad Darwis pun memperoleh kesempatan untuk belajar dalam lingkungan yang mempertemukan berbagai tradisi keilmuan Islam.

Sayid Bakri Syatha dan Lahirnya Nama Ahmad Dahlan

Salah satu guru yang disebut secara khusus oleh Haji Muhammad Syoedja’ adalah Sayid Bakri Syatha, seorang ulama besar mazhab Syafi'i di Makkah.

Dari beliau, Muhammad Darwis memperoleh ijazah keilmuan.

Dalam catatan tersebut dijelaskan bahwa Sayid Bakri Syatha juga memberikan izin penggunaan nama baru, yaitu Haji Ahmad Dahlan.

Perubahan nama ini menjadi penanda fase baru dalam perjalanan hidupnya. Setelah kembali ke tanah air, nama Ahmad Dahlan kemudian dikenal luas sebagai ulama pembaru yang menggerakkan pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial melalui Muhammadiyah.

Fondasi Keilmuan yang Membentuk Seorang Pembaru

Catatan Haji Muhammad Syoedja’ memperlihatkan bahwa pendidikan Ahmad Dahlan berlangsung secara bertahap dan berlapis.

Ia memulai pendidikan dari lingkungan keluarga, memperdalam fiqih dan nahwu kepada kerabat yang ahli di bidangnya, belajar kepada ulama terkemuka Yogyakarta, kemudian memperluas wawasan di Makkah bersama ulama Nusantara dan Timur Tengah.

Fondasi utama yang tampak dari perjalanan tersebut adalah penguasaan Al-Qur'an, fiqih, serta bahasa Arab. Bekal itulah yang kemudian membentuk cara berpikir Ahmad Dahlan ketika mengajak umat kembali merujuk langsung kepada Al-Qur'an dan Sunnah.

Perjalanan menuntut ilmunya juga menunjukkan bahwa pembaruan yang dilakukan Ahmad Dahlan bukan lahir dari pemikiran yang dangkal. 

Gagasan-gagasannya tumbuh dari proses belajar yang panjang, disiplin, serta dialog dengan banyak guru dari berbagai latar belakang keilmuan.

Melalui catatan Haji Muhammad Syoedja’, kita dapat melihat bahwa di balik lahirnya seorang pembaru besar, terdapat mata rantai pendidikan yang kuat. 

Para guru itulah yang menanamkan dasar ilmu, akhlak, dan semangat mencari kebenaran yang kemudian diwariskan Ahmad Dahlan kepada generasi setelahnya melalui Muhammadiyah.

Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment