Hj. Siti Chamamah Soeratno, Pakar Filologi dari Muhammadiyah
Prof. Dr. Hj. Siti Chamamah Soeratno merupakan salah satu tokoh perempuan berpengaruh dalam sejarah Muhammadiyah dan 'Aisyiyah.
Sosoknya dikenal sebagai ulama intelektual, guru besar filologi, pakar kesusastraan Melayu klasik, sekaligus pemimpin organisasi perempuan Islam yang berhasil memadukan tradisi keilmuan, dakwah, dan kepemimpinan modern.
Selama dua periode menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat 'Aisyiyah (2000–2005 dan 2005–2010), Chamamah Soeratno membawa organisasi perempuan Muhammadiyah semakin dikenal sebagai gerakan yang mengedepankan pendidikan, pemberdayaan perempuan, literasi, serta penguatan nilai-nilai Islam berkemajuan.
Kepergiannya pada Selasa, 7 Juli 2026 pukul 20.13 WIB menjadi kehilangan besar bagi dunia pendidikan, kebudayaan, dan gerakan Islam di Indonesia.
Namanya akan selalu dikenang sebagai teladan perempuan yang membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dan pengabdian merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Tumbuh dari Lingkungan Kauman yang Sarat Tradisi Keilmuan
Siti Chamamah Soeratno lahir di Kauman, Yogyakarta, pada 24 Januari 1941. Ia merupakan putri kedua pasangan K.H. Hanad Noor dan Hj. Juhariah.
Ayahnya dikenal sebagai ulama sekaligus pendiri SMA Agama di Yogyakarta, sehingga sejak kecil Chamamah tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menempatkan pendidikan sebagai bagian penting dari kehidupan.
Kauman sendiri merupakan kawasan bersejarah yang menjadi pusat perkembangan Muhammadiyah sejak awal abad ke-20.
Suasana religius sekaligus intelektual di lingkungan tersebut membentuk karakter Chamamah menjadi pribadi yang disiplin, gemar belajar, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat.
Ia bahkan tercatat sebagai salah satu dari tujuh profesor asal Kauman Yogyakarta, sebuah pencapaian yang menunjukkan kuatnya tradisi keilmuan yang berkembang di kawasan tersebut.
Menempuh Pendidikan Hingga Menjadi Guru Besar UGM
Pendidikan dasar dan menengah ditempuh di sekolah-sekolah Muhammadiyah, mulai dari SD Muhammadiyah Ngupasan, SMP Putri Muhammadiyah (kini SMP Muhammadiyah 2 Yogyakarta), hingga SMA Agama yang didirikan ayahnya.
Ketertarikannya terhadap sastra dan budaya membawanya melanjutkan pendidikan di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada. Di kampus inilah minatnya terhadap filologi berkembang secara serius.
Kesempatan memperluas wawasan membawanya melanjutkan studi ke École des Hautes Études en Sciences Sociales (EHESS), Paris, Prancis, pada 1975.
Selama di Prancis ia juga memperdalam bahasa Arab dan bahasa Prancis di Universitas Paris III.
Tidak berhenti di sana, ia melakukan penelitian lanjutan di Belanda dan Inggris guna memperkaya penguasaan terhadap manuskrip Melayu dan berbagai teori filologi modern.
Pada tahun 1988 ia berhasil meraih gelar doktor Ilmu Sastra UGM dengan predikat Cum Laude melalui disertasi berjudul Hikayat Iskandar Zulkarnain: Suntingan Teks dan Analisis Resepsi. Disertasi tersebut kemudian menjadi salah satu rujukan penting dalam studi filologi Indonesia.
Karier akademiknya berkembang pesat hingga diangkat menjadi Guru Besar Ilmu Budaya UGM pada 1993/1994. Selain mengajar, ia dipercaya sebagai Pembantu Dekan I, kemudian menjabat Dekan Fakultas Sastra UGM hingga sekitar tahun 2000.
Ia juga menjadi dosen di berbagai perguruan tinggi, termasuk UIN Sunan Kalijaga dan Universitas Negeri Yogyakarta, serta dipercaya sebagai external examiner di sejumlah universitas di Malaysia.
Pakar Filologi yang Menghidupkan Naskah Nusantara
Nama Chamamah Soeratno sangat identik dengan bidang filologi, yakni ilmu yang mempelajari naskah-naskah kuno sebagai sumber sejarah, budaya, agama, bahasa, dan pemikiran masyarakat masa lampau.
Baginya, manuskrip lama bukan sekadar dokumen berusia ratusan tahun, melainkan jendela untuk memahami perjalanan intelektual bangsa.
Keahliannya meliputi penyuntingan teks (critical edition), analisis resepsi sastra, teori filologi, hingga kajian budaya Melayu klasik. Ia menguasai berbagai bahasa asing, antara lain Arab, Prancis, Inggris, Belanda, dan Jerman, sehingga mampu menelaah berbagai manuskrip lintas negara.
Melalui penelitian filologi, Chamamah berupaya menyelamatkan khazanah budaya Nusantara dari kepunahan. Ia percaya bahwa naskah kuno menyimpan nilai moral, filosofi hidup, adat istiadat, hingga perkembangan seni budaya yang masih relevan bagi kehidupan masa kini.
Karya Ilmiah yang Menjadi Rujukan
Selama puluhan tahun berkarier sebagai akademisi, Chamamah menghasilkan banyak karya ilmiah yang menjadi referensi penting dalam studi sastra dan filologi.
Beberapa karya terkenalnya antara lain:
- Pengantar Teori Filologi
- Hikayat Iskandar Zulkarnain: Analisis Resepsi (1991)
- Kharisma Tokoh Indonesia Lama dan Masalah-Masalahnya (1981)
- Muhammadiyah Sebagai Gerakan Seni dan Budaya: Suatu Warisan Intelektual yang Terlupakan (2009)
- Berbagai penelitian mengenai Kraton Yogyakarta, budaya Jawa, dan manuskrip Melayu.
Melalui karya-karya tersebut, ia memperlihatkan bahwa ilmu filologi tidak hanya berbicara mengenai teks lama, tetapi juga mampu menjelaskan perubahan nilai sosial, budaya, dan peradaban masyarakat Indonesia.
Atas dedikasinya dalam dunia akademik dan dakwah, ia menerima UMM Award dari Universitas Muhammadiyah Malang pada tahun 2014.
Meniti Kepemimpinan dari Nasyiatul 'Aisyiyah
Selain menjadi akademisi, Chamamah dikenal sebagai kader Muhammadiyah yang tumbuh melalui proses panjang.
Kepemimpinannya dimulai saat dipercaya menjadi Ketua Umum pertama Nasyiatul 'Aisyiyah pada periode 1965–1968. Dari sinilah kemampuannya membina kader muda mulai terlihat.
Sejak 1968 ia bergabung dalam Pimpinan Pusat 'Aisyiyah dan memperoleh berbagai amanah, mulai dari bendahara, sekretaris, wakil ketua, hingga akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum PP 'Aisyiyah.
Ia juga aktif mengelola majalah Suara 'Aisyiyah sejak 1966 sehingga memiliki perhatian besar terhadap dunia literasi dan komunikasi dakwah.
Di Muhammadiyah, ia pernah menjadi anggota Majelis Tarjih dan Tajdid periode 1995–2000. Sementara di luar organisasi, ia aktif dalam Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), khususnya sebagai Ketua Divisi Kebudayaan ICMI Yogyakarta.
Memimpin PP 'Aisyiyah pada Era Perubahan
Ketika dipercaya menjadi Ketua Umum PP 'Aisyiyah pada tahun 2000, Indonesia sedang memasuki era Reformasi. Perubahan sosial, politik, dan teknologi menghadirkan tantangan baru bagi organisasi perempuan Islam.
Chamamah menjawab tantangan tersebut melalui kepemimpinan yang adaptif, berbasis ilmu pengetahuan, dan tetap berpijak pada nilai-nilai Islam.
Di bawah kepemimpinannya, 'Aisyiyah memperkuat pendidikan perempuan, pemberdayaan keluarga, kesehatan masyarakat, literasi, dan pengembangan kader.
Salah satu gagasan yang cukup maju pada masanya ialah gerakan literasi media. Ia mengingatkan masyarakat, terutama para ibu, agar tidak menerima begitu saja isi tayangan televisi maupun sinetron yang berpotensi merusak karakter anak dan kehidupan keluarga.
Menurutnya, keluarga harus memiliki kemampuan memilih informasi secara kritis sehingga media benar-benar menjadi sarana pendidikan, bukan sebaliknya.
Mengangkat Perempuan Melalui Pendidikan
Chamamah Soeratno selalu menempatkan pendidikan sebagai jalan utama pemberdayaan perempuan.
Baginya, perempuan tidak cukup hanya memperoleh akses pendidikan formal, tetapi juga harus memiliki kemampuan berpikir kritis, memahami budaya, dan mampu menjadi agen perubahan di masyarakat.
Pandangan tersebut selaras dengan semangat Muhammadiyah dan 'Aisyiyah sejak awal berdiri, yakni memajukan perempuan melalui ilmu pengetahuan tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.
Ia menjadi contoh nyata bahwa perempuan dapat berkiprah sebagai ilmuwan, pemimpin organisasi nasional, sekaligus pendidik yang dihormati di tingkat internasional.
Kiprah di Forum Dunia
Aktivitas Chamamah tidak hanya berlangsung di Indonesia.
Ia pernah menjabat Ketua International Moslem Women Union (IMWU) periode 2007–2010.
Selain itu, ia aktif dalam World Conference on Religion and Peace (WCRP) serta International Conference on Religion and Peace (ICRP), yang mempertemukan tokoh-tokoh lintas agama dalam upaya membangun perdamaian dunia.
Ia juga pernah menyampaikan pidato di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mewakili 'Aisyiyah. Kehadirannya menunjukkan bahwa organisasi perempuan Muhammadiyah memiliki pengaruh dan kontribusi dalam percakapan global mengenai perempuan, pendidikan, perdamaian, dan pembangunan.
Dikenang sebagai Pemimpin yang Ramah dan Tegas
Banyak tokoh Muhammadiyah mengenang Chamamah sebagai pribadi yang rendah hati, terbuka, dan memiliki keluasan wawasan.
Ketua Umum PP Muhammadiyah menyebutnya sebagai sosok yang ramah namun tegas dalam pendirian. Ia terbuka terhadap perbedaan pendapat, menghargai generasi muda, serta memiliki jejaring intelektual hingga tingkat internasional.
Sementara Ketua Umum PP 'Aisyiyah menilai warisan terbesar Chamamah bukan hanya karya ilmiah atau jabatan yang pernah diembannya, melainkan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan kepada generasi penerus.
Menurutnya, Chamamah mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan harus menjadi jalan pengabdian kepada umat, bangsa, dan kemanusiaan. Ia juga menekankan pentingnya kaderisasi, kesungguhan belajar, serta kesiapan mengabdi sebagai fondasi lahirnya pemimpin yang berkualitas.
Warisan yang Tetap Hidup
Prof. Dr. Hj. Siti Chamamah Soeratno meninggalkan warisan yang melampaui batas akademik maupun organisasi.
Sebagai ilmuwan, ia berhasil memperkaya kajian filologi Indonesia dan menyelamatkan banyak khazanah intelektual Nusantara melalui penelitian manuskrip klasik.
Sebagai pemimpin, ia membawa 'Aisyiyah menjadi organisasi perempuan yang semakin responsif terhadap tantangan zaman tanpa kehilangan identitas keislamannya.
Sebagai pendidik, ia melahirkan banyak akademisi dan kader yang meneruskan tradisi berpikir kritis, ilmiah, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.
Jejak pengabdiannya membuktikan bahwa ilmu pengetahuan memperoleh makna tertinggi ketika diabdikan bagi kemajuan umat.
Sosoknya menjadi inspirasi bahwa perempuan dapat memimpin organisasi besar, menghasilkan karya ilmiah berkelas dunia, menjaga warisan budaya bangsa, sekaligus menghadirkan dakwah Islam yang mencerahkan.
Referensi
- Situs resmi Pimpinan Pusat 'Aisyiyah.
- PWMU.CO.
- Profil Prof. Dr. Hj. Siti Chamamah Soeratno dari Universitas Gadjah Mada.
- Pernyataan resmi PP Muhammadiyah.
- Pernyataan resmi PP 'Aisyiyah.
- Berbagai publikasi ilmiah mengenai filologi dan kesusastraan Melayu klasik (diakses Juli 2026).
