TERBARU


Seperti Apa Masa Kecil KH Ahmad Dahlan?

5 Fondasi yang Membentuk Muhammad Darwis Menjadi Ulama Pembaharu

Foto rekonstruksi masa kecil KH Ahmad Dahlan dengan bantuan AI. Bukan foto resmi.


Pagi di kampung Kauman, Yogyakarta, pada akhir abad ke-19, belum ramai oleh kendaraan. Yang terdengar adalah langkah orang menuju Masjid Gedhe, suara anak-anak mengaji, dan percakapan para ulama di serambi rumah. 

Di salah satu rumah berpandangan pendopo ke arah selatan, lahirlah seorang anak laki-laki yang kelak dikenal sebagai KH Ahmad Dahlan. Saat itu, namanya masih Muhammad Darwis.

Haji Muhammad Syoedja’, murid sekaligus kader langsung KH Ahmad Dahlan, menuliskan kenangan tentang masa kecil gurunya dengan nada penuh hormat. 

Dari catatan itulah tergambar bahwa Darwis tumbuh bukan hanya sebagai anak yang cerdas, tetapi juga anak yang dibesarkan dalam kasih sayang, disiplin, dan lingkungan yang menjunjung tinggi ilmu serta akhlak.

Berikut lima fondasi penting yang membentuk masa kecil Muhammad Darwis di Kauman.

1. Lahir di Tengah Keluarga Ulama yang Menjaga Ilmu dan Akhlak

Kauman bukan kampung biasa. Kawasan di sekitar Masjid Gedhe Yogyakarta itu dihuni para pengurus masjid dan keluarga ulama. Di situlah ayah Muhammad Darwis, KH Abubakar, tinggal dan mengabdi sebagai Khatib Amin Masjid Besar Yogyakarta. 

Ibunya, Siti Aminah, juga berasal dari keluarga terpandang dalam lingkungan keagamaan, yakni putri KH Ibrahim, Penghulu Besar Yogyakarta.

Muhammad Darwis menjadi satu-satunya anak laki-laki di antara lima saudara perempuan. Posisi itu membuat perhatian orang tua tercurah penuh kepadanya. 

Namun kasih sayang itu tidak menjadikannya manja. Syoedja’ menggambarkan rumah tangga keluarga ini sebagai tempat pendidikan jasmani dan rohani yang bernilai tinggi.

Di rumah tersebut, Darwis melihat langsung teladan ayahnya yang berilmu dan ibunya yang salehah. Ia tumbuh dalam suasana tenteram, aman, dan berkecukupan. 

Lingkungan keluarga seperti inilah yang menjadi sekolah pertama bagi pembentukan karakternya.

2. Kecerdasan yang Sudah Terlihat Sejak Kanak-kanak

Syoedja’ menyebut Darwis sebagai anak yang sangat cerdas. Dalam bahasa Jawa yang ia gunakan, Darwis digambarkan “punjuling ngapak cerdas fikirannya”, menonjol kecerdasannya dibanding teman-teman sebayanya.

Kecerdasan itu tampak dalam pergaulan sehari-hari. Saat bermain, Darwis sering menjadi pengarah kelompok. Ia mampu mempengaruhi kawan-kawannya tanpa bersikap kasar. Anak-anak lain senang mengikuti ajakannya.

Yang menarik, kecerdasan tersebut berjalan beriringan dengan keteraturan hidup. Setelah bermain, ia kembali menata alat belajar dan mengatur waktunya sendiri. Ia tidak tenggelam dalam permainan. 

Sejak kecil, ia sudah mengenal batas antara waktu belajar dan waktu bersenang-senang.

Di tengah kampung Kauman yang dipenuhi keluarga ulama, Darwis juga terbiasa mendengar pembicaraan tentang ilmu agama. Lingkungan seperti itu membuat rasa ingin tahunya terus terasah.

3. Menghatamkan Al-Qur’an di Usia Delapan Tahun

Pendidikan Darwis dimulai dari rumah. Ayahnya tidak menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada orang lain. KH Abubakar membimbing putranya sendiri membaca Al-Qur’an dan dasar-dasar agama.

Hasilnya terlihat ketika Darwis berusia sekitar delapan tahun. Ia sudah mampu membaca Al-Qur’an dengan lancar hingga khatam. 

Pada masa itu, pencapaian seperti ini bukan perkara kecil. Banyak anak seusianya masih belajar mengeja huruf-huruf hijaiyah, sementara Darwis telah menyelesaikan bacaan Al-Qur’an secara sempurna.

Setelah khatam, pelajarannya tidak berhenti. Ia mulai membuka kitab-kitab lain dan mempelajari ilmu agama lebih dalam. Semangat belajarnya terus tumbuh seiring bertambahnya usia.

Ketika mulai dewasa, ia belajar fiqih kepada KH Muhammad Saleh dan ilmu nahwu kepada KH Muhsin, yang masih keluarga dekat dan tinggal berdampingan di Kauman. 

Ia juga berguru kepada sejumlah ulama lain di Yogyakarta. Pola belajarnya menggunakan metode sorogan, yaitu belajar satu per satu di hadapan guru, sehingga pemahaman dan kedisiplinan benar-benar teruji.

4. Akhlak Lembut yang Membuatnya Dihormati

Dalam catatan Syoedja’, bagian tentang akhlak mendapat penekanan khusus. Darwis dikenal berhati lunak, berbudi halus, sabar, dan tidak suka memaksakan kehendak. Ia lebih memilih mengalah selama tidak menyangkut prinsip agama.

Kecerdasannya tidak membuatnya merasa lebih tinggi dari orang lain. Justru karena sikapnya yang lembut, ia mudah diterima dalam pergaulan. Ia menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda.

Sifat inilah yang kemudian membuat orang-orang di sekitarnya menaruh hormat. Ketika remaja, Darwis mulai membantu ayahnya mengajar di langgar. Ia membimbing anak-anak yang lebih muda dengan metode sorogan pada siang dan sore hari.

Jika ayahnya berhalangan, Darwis dipercaya menggantikan. Kepercayaan itu tidak datang tiba-tiba. Masyarakat melihat kesungguhan, ilmu, dan akhlaknya. 

Lambat laun, para sepuh mulai memanggilnya “Kiyai”, meskipun usianya masih muda.

Panggilan tersebut menunjukkan bahwa penghormatan masyarakat lahir dari karakter, bukan semata-mata usia.

5. Kauman Menjadi Tempat Tumbuhnya Seorang Pembaharu

Masa kecil Darwis tidak hanya diisi belajar mengaji dan bermain di kampung. Ia hidup di tengah jaringan ulama, tradisi keilmuan Islam, dan kehidupan masyarakat yang relatif sejahtera. 

Setiap hari ia menyaksikan bagaimana ilmu diajarkan, bagaimana ibadah dijaga, dan bagaimana akhlak dipraktikkan dalam kehidupan nyata.

Empat unsur bertemu dalam dirinya sejak dini.

  • Kasih sayang orang tua yang saleh.
  • Lingkungan Kauman yang religius.
  • Pendidikan Al-Qur’an yang kuat.
  • Kecerdasan yang dibimbing disiplin dan akhlak.

Gabungan itulah yang kemudian menjadi bekal besar ketika Muhammad Darwis tumbuh dewasa dan dikenal sebagai KH Ahmad Dahlan. 

Keteguhan hati, kecintaan pada Al-Qur’an dan Sunnah, kemampuan memimpin, serta kelembutan dalam berdakwah sudah mulai tampak sejak masa kanak-kanak.

Membaca kisah masa kecilnya memberi pelajaran bahwa tokoh besar tidak lahir secara mendadak. Ada proses panjang yang dimulai dari rumah, dari teladan orang tua, dari lingkungan yang baik, dan dari kebiasaan belajar sejak usia dini.

Di gang-gang Kauman yang sederhana itu, seorang anak bernama Muhammad Darwis belajar membaca Al-Qur’an, mengatur waktunya, menghormati guru, dan melayani masyarakat. 

Bertahun-tahun kemudian, anak itu mendirikan Muhammadiyah dan memberi pengaruh besar bagi perkembangan Islam di Indonesia.

Jejak masa kecil KH Ahmad Dahlan menunjukkan bahwa perubahan besar sering berawal dari hal-hal yang tampak kecil. 

Dari rumah yang dipenuhi ilmu, dari orang tua yang mendidik dengan kasih sayang, dan dari seorang anak yang menjaga akhlaknya sejak dini.

Sumber utama: Cerita tentang Kiyai Haji Ahmad Dahlan – Catatan Haji Muhammad Syoedja’ (hlm. 12–14, 22, dan bagian pendahuluan).

Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment