SIAPA “SANG MAESTRO” MUHAMMADIYAH ITU?
Oleh: Sirot Fajar
Dua hari ini, Sabtu-Ahad, 4-5 Juni 2026, saya berkesempatan mengikuti Jatim Historical Leadership Program yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. Kegiatan yang dilaksanakan di SMA Muhammadiyah 2 Surabaya ini diikuti oleh 45 peserta dari para penulis, jurnalis, peneliti dan orang-orang yang memiliki minat pada sejarah Muhammadiyah dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Kegiatan yang bertajuk “Sang Maestro” ini diinisiasi oleh Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) dan Majelis Pustaka, Informasi, dan Digitalisasi (MPID) PWM Jatim.
Target keluaran dari program ini adalah sebuah buku yang berisi tokoh-tokoh Muhammadiyah dan Aisyiyah di daerah di Jawa Timur. Setiap kabupaten/kota ditargetkan ada satu tokoh Muhammadiyah dan Aisyiyah.
Mohammad Rokip, Ketua MPKSDI PWM Jatim, dalam sambutannya menyampaikan bahwa tokoh-tokoh yang ditulis ini tidak harus tokoh besar. Ia mungkin hanya tokoh skala daerah, cabang bahkan ranting namun memiliki kontribusi yang besar.
Sekecil apapun cerita itu bisa dituliskan selama ada pelajaran dan inspirasi yang bisa diambil.
Selama dua hari peserta digembleng langsung oleh narasumber yang kompeten dalam bidang sejarah dan Muhammadiyah.
Ada materi profil kader dan nilai perjuangan Muhammadiyah yang disampaikan Dr. M. Sulthon Amien selaku wakil ketua PWM.
Selanjutnya ada materi terkait metodologi penelitian dan teknik penulisan sejarah populer yang disampaikan dua guru besar bidang sejarah dari Universitas Airlangga, Prof. Dr. Sarkawi dan Prof. Dr. Purnawan Basundoro.
Salah satu syarat utama tokoh yang bisa ditulis dalam program ini adalah sang tokoh telah wafat dan pernah aktif di persyarikatan Muhammadiyah. Prof. Purnawan Basundro menyampaikan, “Tidak ada organisasi tanpa tokoh. Apalagi organisasi sebesar Muhammadiyah sudah pasti digerakkan oleh para tokoh sehingga ia bisa bertahan sampai sekarang.”
Menghadirkan tokoh-tokoh ini bukan untuk mengkultuskannya atau menganggapnya ia manusia suci. Tujuan penulisan sejarah tokoh Muhammadiyah ini agar bisa diceritakan kepada generasi yang akan datang.
Sejarah tokoh ini ditulis agar ia tidak hilang dan bisa sebagai arsip sejarah persyarikatan.
Tokoh-tokoh itu mungkin orang yang pernah kita temui. Kiprah mereka mungkin pernah kita rasakan manfaatnya. Dia mungkin orang biasa. Namanya tidak pernah tercatat dalam buku-buku sejarah.
Namun, ia pernah berperan dan memberi kontribusi bagi orang-orang di sekitarnya termasuk kita. Meski kontribusinya tampak kecil dan sederhana, apa yang telah dilakukannya tetap layak dikenang dan menjadikannya “Sang Maestro”.
Menuliskan sejarah seseorang bukan sekadar menghadirkan kembali kenangan tentang dirinya, melainkan menggali nilai-nilai yang telah diwariskannya agar menjadi ibrah dan inspirasi untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Mungkin juga “Sang Maestro” itu adalah Anda yang membaca tulisan ini. Ketika Anda sekarang terus semangat beramal dan berkontribusi semaksimal kemampuan untuk persyarikatan ini, mungkin orang-orang akan menganggap Anda “Sang Maestro” yang ceritanya layak ditulis untuk generasi yang akan datang. Semoga. []

