Muhammadiyah Layani 7.225 Penyintas Gempa NTT, Lazismu Himpun Donasi Rp6,09 Miliar
JAKARTA — Muhammadiyah melalui Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC) bersama Lazismu terus menjalankan aksi layanan kemanusiaan bagi penyintas gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang melanda tujuh kabupaten di NTT pada 15 Agustus 2026 mendorong Muhammadiyah memobilisasi sumber daya dari berbagai daerah. Respons tersebut mencakup layanan kesehatan, bantuan nonkesehatan, hingga distribusi logistik bagi masyarakat terdampak.
Hingga 3 September 2026, Muhammadiyah tercatat telah memberikan layanan kepada 7.225 penyintas gempa bumi NTT melalui berbagai program kemanusiaan.
Lazismu Himpun Rp6,09 Miliar
Dukungan masyarakat terhadap respons bencana tersebut juga terlihat dari penghimpunan dana melalui program Indonesia Siaga yang dikelola Lazismu.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebelumnya menerbitkan Surat Edaran Nomor 18/EDR/I.0/H/2026 pada 20 Agustus 2026. Surat tersebut menginstruksikan seluruh masjid untuk menggalang infak Salat Jumat bagi bantuan kemanusiaan korban gempa NTT pada Jumat, 21 Agustus 2026.
Hingga 3 September 2026, dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp6.099.163.820. Dari jumlah tersebut, sebanyak Rp3.455.958.814 telah disalurkan untuk mendukung aksi layanan kemanusiaan Muhammadiyah di NTT.
Direktur Utama Lazismu, Barry Adhitya, mengatakan penyaluran dana masih akan dilanjutkan untuk mendukung respons bencana, termasuk memasuki tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi.
Menurutnya, pemanfaatan dana donasi diarahkan agar kebutuhan masyarakat terdampak dapat terus dipenuhi sekaligus mendukung upaya membangun ketangguhan masyarakat pascabencana.
Rumah Sakit Lapangan Didirikan di Manggarai Timur
Salah satu layanan utama Muhammadiyah dalam respons gempa NTT adalah bidang kesehatan.
Muhammadiyah mengerahkan Emergency Medical Team (EMT) Type-1 Fixed yang terdiri atas 50 personel. Tim dengan standar World Health Organization (WHO) tersebut mendirikan rumah sakit lapangan di Puskesmas Dampek, Manggarai Timur, yang mengalami kerusakan akibat gempa.
Tim tersebut bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan dijadwalkan bertugas selama 30 hari sejak 17 Agustus 2026.
Selain rumah sakit lapangan, Muhammadiyah mengerahkan EMT Mobile. Tim ini bergerak menuju lokasi-lokasi pengungsian yang sulit dijangkau untuk memberikan pelayanan kesehatan secara langsung kepada penyintas.
Personel EMT Mobile berasal dari berbagai Rumah Sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Indonesia.
Data hingga 3 September 2026 menunjukkan layanan kesehatan Muhammadiyah telah menjangkau 2.215 perempuan dan 1.487 laki-laki penyintas.
Jika dirinci berdasarkan kelompok usia, layanan kesehatan tersebut mencakup 85 bayi, 229 balita, 266 anak, 150 remaja, 2.173 dewasa, 22 ibu hamil, dan 799 lansia.
Infeksi Saluran Pernapasan Jadi Keluhan Terbanyak
Hasil pemeriksaan di rumah sakit lapangan menunjukkan sejumlah diagnosis yang cukup dominan di kalangan penyintas.
Infeksi saluran pernapasan menjadi diagnosis tertinggi dengan 437 kasus. Selanjutnya terdapat 372 penyintas yang mengalami nyeri otot dan pegal-pegal.
Keluhan hipertensi tercatat pada 233 penyintas. Sementara itu, 186 penyintas mengalami rasa tidak nyaman atau nyeri di sekitar perut.
Keluhan lain yang banyak ditemukan adalah sakit kepala dan nyeri leher hingga tengkuk, dengan 153 kasus.
Data tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan pelayanan kesehatan pascagempa tetap berlangsung setelah fase tanggap darurat awal. Kondisi penyintas, terutama kelompok rentan, membutuhkan pemantauan dan pelayanan berkelanjutan.
Tujuh Pos Koordinasi Daerah Dibangun
Respons Muhammadiyah dimulai dengan pendirian Pos Koordinasi Wilayah di Klinik Muhammadiyah Ende, Jalan Mahoni, Kelurahan Kota Ratu, Kecamatan Ende Utara, Kabupaten Ende.
Pos tersebut menjadi pusat perencanaan, koordinasi, dan evaluasi aksi layanan kemanusiaan Muhammadiyah di wilayah terdampak.
Hingga 4 September 2026, telah berdiri 7 Pos Koordinasi Daerah di tujuh kabupaten serta 10 Pos Pelayanan di berbagai wilayah terdampak.
Pelayanan kemanusiaan dibagi dalam tiga klaster prioritas, yaitu kesehatan, nonkesehatan, dan logistik.
Pada klaster nonkesehatan, dapur umum Muhammadiyah telah melayani 1.750 jiwa. Layanan sanitasi dan air bersih juga dibangun di dua titik.
Sementara itu, layanan psikososial telah menjangkau 1.773 jiwa penyintas. Layanan ini menjadi bagian penting dalam pemulihan masyarakat karena bencana besar dapat meninggalkan dampak sosial dan psikologis yang berlangsung lebih lama daripada kerusakan fisik.
Bantuan Logistik Terus Disalurkan
Respons di lapangan juga diperkuat dengan berbagai dukungan logistik. Muhammadiyah menyalurkan mobil dapur umum, mobil taktis, 500 paket family kit, 600 paket school kit, 1.440 kaleng Rendangmu, serta terpal sepanjang 500 meter.
Dukungan berupa obat-obatan dan kebutuhan medis juga disalurkan melalui tim EMT Mobile dari Rumah Sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang bertugas di lokasi bencana.
Barry menyampaikan apresiasi kepada relawan Muhammadiyah yang bekerja di lapangan serta para donatur dan jamaah Salat Jumat yang memberikan dukungan melalui program Indonesia Siaga.
Lazismu menyatakan akan terus memantau dan mengevaluasi program Indonesia Siaga di NTT. Dana yang telah dihimpun akan dioptimalkan untuk kebutuhan pemulihan masyarakat hingga tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.
Respons tersebut menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak berhenti pada pemberian bantuan darurat. Setelah kebutuhan mendesak terpenuhi, pemulihan kehidupan masyarakat dan pembangunan kembali wilayah terdampak menjadi bagian penting dari kerja kemanusiaan Muhammadiyah dan Lazismu.
Dukung terus aksi layanan Muhammadiyah merespons gempa bumi di NTT melalui: https://donasi.lazismu.org/bantuanbencana dan ikuti perkembangan informasinya lewat: https://lazismu.org/dashboardresponntt.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]
Narahubung:
Nazhori Author (Divisi Komunikasi dan Digitalisasi Lazismu Pusat/081298249567)




