TERBARU


Bagian ke-2 Biografi KH. Ahmad Dahlan



Haji Ahmad Dahlan Mulai Jadi Guru


Sejak pulang dari Mekkah beliau sudah mempunyai bakat sebagai guru, yang mengajar murid-murid ayahnya yang belajar di waktu siang (ba’da dhuhur) dan di waktu sore (ba’da maghrib sampai isya) di langgar bagi anak-anak yang belum dan sedang dewasa dengan secara sorogan (satu persatu) menurut kitabnya murid masing-masing, sebagai membantu pekerjaan ayahnya. 

Tetapi pada pelajaran di waktu sore (ba’da ashar) terhadap orang dewasa/para sepuh masih dipegang KH. Abu Bakar sendiri dan Haji Ahmad Dahlan ikut serta dalam pengajian itu. 

Yang demikian itu berjalan terus dalam beberapa tahun, dan hanya apabila KH. Abu Bakar berhalangan Haji Ahmad Dahlan lah yang mengganti sebagai wakilnya. 

Setindak demi setindak, berkembanglah muridnya di waktu siang dan ba’da maghrib, lama-lama murid dewasa atau para sepuh dari murid ayahandanya pun memanggil juga Kiai.

Haji Ahmad Dahlan Diberi Modal Buat Dagang


Kurang lebih satu tahun sepulangnya Haji Ahmad Dahlan dari Mekkah, KH. Abu bakar sebagai ayah yang kasih sayang kepada putranya, maka dengan ikhlas hati dan cinta kasihnya, berkenan memberi modal hidup untuk berdagang kepada Haji Ahmad Dahlan dan mbakyunya (Nyai H.M. Saleh) masing-masing 500 gulden sampai 1000 gulden. 

Tentu saja dua putra dan putri sama gembira menerima modal hidup daripada orang tua yang saleh dan terhormat sebesar itu.

Modal Nyai H. Saleh sebanyak 500 gulden lalu diserahkan kepada suaminya untuk menambah modal dagangnya yang telah berjalan sebagai toko barang cambric dan sebagian kecil kitab-kitab serta Al-Qur'an dan lain-lain. 

Sedangkan Haji Ahmad Dahlan, modal hidup itu sebagian banyak dibelikan kitab-kitab yang dipandang perlu buat dirinya. 

Soal dagang untuk hidup duniawi bukan soal yang paling prinsip buat Haji Ahmad Dahlan tetapi dagang yang kekal dan zonder rugi serta untung dan abadi sampai di hari nanti. 

Demikianlah pikiran dan cita-cita KH. Ahmad Dahlan sejak dari dahulu.

Mu’syarah Kiai Khatib Amin H. Abu Bakar dalam Rumah Tangganya


Kiai Khatib Amin H. Abu Bakar memang seorang yang alim tua dan dipertua oleh penghuni Kampung Kauman dan kampung sekitarnya.

Pekerjaannya sebagai guru agama dilakukannya secara sukarela untuk penghuni Kampung Kauman dan kampung sekitarnya pada tiap-tiap hari di saat yang tertentu.

Penghidupannya, selain menjabat pangkat Khatib Amin, menjadi jati-houd handel untuk melayani umum. Tokonya di sebelah muka rumahnya, pekerjaan itu jalannya diserahkan kepada seorang magersari-nya yang boleh dipercaya.

Keluarganya istri Nyai Khatib Amin dan putra sendiri, Haji Ahmad Dahlan dengan istri dan anaknya termasuk keluarganya.

Pergaulannya sungguh senang dan menyenangkan bagi siapa saja yang memandang. Aman tenteram, ayem, bahagia, dan sejahtera dan mulia. 

Pergaulan dalam rumah itu seolah-olah merupakan suatu gedung pendidikan jasmani dan rohani yang sangat tinggi nilai dan mutunya.

Karena pemimpin pergaulan dalam rumah tangga itu pemimpin yang besar jiwanya dalam agama dan suci murni serta ikhlas jatinya. 

Yaitu beliau KH. Khatib Amin yang memang asal keturunan dari alim ulama yang telah lampau. Dan dibantu oleh putranya Haji Ahmad Dahlan yang sangat mirip segala gerak-geriknya, malah karena masih muda dan berpengetahuan, lebih supel dan mrantasi untuk melayani pergaulan sekeluarga rumah tangga itu dan tamu-tamunya.

Sehingga barangsiapa tetamu yang datang membawa susah dari rumah, melihat suasana pergaulan yang senang, tenang, serta tenteram bahagia di rumah Kiai Khatib Amin maka rasa terhiburlah mereka dan lenyaplah rasa susah yang berat itu. 

Dan barangsiapa tetamu yang datang membawa hati yang riang dan gembira, maka merasa bersyukurlah kepada Allah SWT. karena merasa ikut menikmati pergaulan yang bahagia itu. 

Demikianlah suasana rumah tangga Kiai Khatib Amin sejak datangnya Haji Ahmad Dahlan dari Mekkah agak bertambah nilainya.

Ibu Nyai Khatib Amin Meninggal Dunia


Memang dunia selalu berubah dan suasana senantiasa saling berganti. Bila kemarin sudah bungah (gembira) dan sekarang bungah, mungkin besok akan menjadi susah. Begitulah seterusnya.

Pada itu keluarga Kiai Khatib Amin Haji Abu Bakar bersualah dengan suatu musibah yang mengguncangkan masyarakat rumah tangganya, ialah pada akhir Sya’ban 30 menghadap 1 Ramadhan tahun 1890 Ibu Nyai Khatib Amin, ibunya Haji Ahmad Dahlan yang sangat dihormati dan dicintai telah meninggal dunia pulang ke Rahmatullah, karena sakit dalam beberapa hari saja, Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. 

Bukan saja keluarga Khatib Amin Haji Abu Bakar yang merasa kehilangan ibunya yang dicinta-sayangi, tetapi penghuni Kampung Kauman dan sekitarnya, pria dan wanita yang ikut serta mengeluarkan air mata dan tersedu-sedu karena kehilangan ibu yang dicintai.

Pada 1 Ramadhan jam 08:30 jenazah almarhumah di suraunya, kemudian dimakamkan di Karangkajen dengan kehormatan kaum Muslimin yang sebanyak-banyaknya. 

Mudah-mudahan roh almarhumah diterima oleh Allah SWT. dengan sebesar rahmat dan nikmat-Nya. Amin.

Menurut adat istiadat di masa itu, mulai malam yang pertama, orang menyebut malam surtanah, dibacakan tahlil dan kenduri dan seterusnya pada tiap ba’da Isya sampai selesai tujuh hari, ratusan yang hadir tidak dengan diundang dan malam ketujuh dengan kenduri. 

Dan pada tiap-tiap pagi selama tujuh hari itu, keluarganya Kiai Khatib Amin sama mengunjungi makam ibunya untuk membaca tahlil.

Pada malam 40 harinya, malam 100 hari, malam satu tahun, malam dua tahun, dan malam 1.000 harinya sebagai selamatan yang penghabisan, semua yang berhadir harus dengan undangan resmi. 

Dan jamuannya merupakan ambengan yang dibawa pulang oleh hadirin. Adapun jamuan yang terakhir 1000 hari itu lebih besar dari pada jamuan kenduri yang lain.

Sejak meninggalnya almarhumah ibunda Haji Ahmad Dahlan, ayahandanya Kiai Khatib Amin Haji Abu Bakar hidup sebagai orang tua sebatangkara, walaupun putra dan putrinya tidak kurang-kurangnya sama melayani seorang tua ayahandanya, teristimewa Nyai Haji Saleh yang sangat berdampingan rumah dengan ayahandanya sedangkan Haji Ahmad Dahlan dalam satu rumah dengannya.

Kiai Khatib Amin rupanya karena keadaan suasana tenang, tenteram, dan aman sudah kembali sebagai sediakala, hidup sebatang karanya itu sangat tidak mempengaruhi jiwanya yang sabar dan kuat menekan nafsu dan hawanya. 

Sehingga tidak sedikit saja kelihatan menunjukkan rasa terharu terhadap almarhumah. Tetapi roman wajahnya kelihatan seperti biasa tidak mengandung rasa berat dan kecewa, malahan kelihatan bregas, waras, sehat, dan ‘afiat.

Kiai Haji Ahmad Dahlan Mengawinkan Ayahandanya


Di saat yang riang gembira Haji Ahmad Dahlan sering mendekati ayahnya sambil melayani masa futur di waktu pagi dan bercakap-cakap soal aneka warna seolah-olah menghibur ayah dengan cara yang halus dan sopan santun sambil senda gurau, ayahanda dianjuri.

“Andaikata ayah kawin lagi bagaimana?” Dengan anjuran yang disertai senyuman itu, ayah pun menjawab dengan senyum juga, “Ah aku sudah tua, sebentar lagi tentu akan menyusul ibumu!”

“Soal menyusul walaupun anakanda yang masih muda tentu akan menyusul juga bahkan mungkin anakanda akan menyusul lebih dahulu,” jawab Dahlan. 

“E, jangan kau menyusul ibumu, ibumu itu bagianku yang menyusul, sedang bagianmu menyusul istrimu kalau ia mati lebih dahulu,” balas sang Ayah.

Keduanya yang bercakap sama tertawa, tetapi tertawa ringan menunjukkan isi hatinya sama lega.

Daripada ketelitian dan ketelatenan KH. Ahmad Dahlan serta pandainya bicara sejak mulai dari senda gurau sedikit demi sedikit menjadi perundingan yang konkret dengan ayahnya.

Sesungguhnya kami para anak-anak sekalian itu sama memandang ayah hidup sebatang kara sama merasa sangat kasihan dan tidak sampai hati karena tidak ada ibu yang menghadapi ayah di waktu minum di waktu pagi, dan tidak ada ibu pula yang menghadapi di waktu dahar siang dan di waktu dahar sore. 

Walaupun di antara satu dua ada yang melayani bapak, tetapi sesudah selesai juga lantas sama pulang. Tetapi semua itu tidak sampai hati akan mencetuskan rasa hatinya terhadap Bapak, khawatir kalau-kalau tidak dapat persetujuan dari Bapak.

Keinginan mbakyu-mbakyu dan adik-adik, juga anaknya sendiri ingin memandang ayah hidup senang, tenteram, dan bahagia seperti sediakala (di zaman ibu yang sudah-sudah).

Sang ayah menjawab dengan mengandung bertanya, “Apakah mungkin ayahmu ini akan dapat kawin seorang wanita yang seimbang dengan ibumu yang marhumah?” Hal itu tentu diikhtiari dengan sedapat mungkin.

“Adakah calon ganti ibumu itu sudah kamu pikiran, kalau sudah siapakah calon itu? Cobalah kau tunjukkan namanya”.

“Calon itu buat pendapat anakanda yang belum anakanda runding dengan mbakyu-mbakyu dan adik-adik ialah Ibu Khatib Tengah, bagaimana pertimbangan Ayah?” jawab Dahlan.

“Untuk menyingkat berunding, coba aku akan beristikharah pada Allah dan kau berunding dengan saudara-saudaramu. Dan apa nanti hasil istikharahku serta hasil rundinganmu kalau cocok, jadi putusan yang konkret”.

Dua hari setelah berunding yang terakhir ini, alhamdulillah, hasil istikharah dan berunding dapat sesuai dengan bulat. 

Akhirnya sang ayah memberikan izin untuk dijalankan perundingan dengan yang bersangkutan.

Alhamdulillah, dengan qadla dan qadar Allah SWT. perundingan di antara kedua belah pihak, KH. Ahmad Dahlan yang mempunyai ayah dan Raden Khatib Tengah Haji Muhammad yang mempunyai ibu, perundingan akan menjodohkan bakal mempelai tua ayah dan ibu itu dapat berhasil dengan lancar sebagai yang dimaksud.

Kemudian KH. Ahmad Dahlan lalu melaporkan hasil perundingannya yang memuaskan itu kepada ayah dan saudara-saudaranya dengan lega dan gembira. 

Kemudian sang ayah memerintahkan kepada putra dan putri-putrinya supaya direncanakan pelaksanaannya dengan secara sederhana secara mempelai tua.

Para putra dan para putri dari kedua belah pihak mempelai Kiai Khatib Amin dan Ibu Nyai R. Ng. Khatib Tengah Haji Muhammad Ma’ruf sama berkumpul berunding merencanakan pelaksanaan pernikahan ayah dan ibu mempelai tua tersebut.

Perundingan dapat memutuskan dengan bulat, bahwa pelaksanaannya pernikahan ayah dan ibu dilangsungkan pada Kamis malam Jumat terakhir Rajab 1891 Miladiyah. Jadi berjalan 19 bulan 25 hari, dari wafatnya almarhumah ibu Nyai Khatib Amin. 

Perhelatannya hanya diselenggarakan dengan secara sederhana dan ringkas, yaitu wali saudara diundang di rumah Khatib Amin pada malam Jumat tersebut jam 8 ba’da Isya.

Yang diundang hanya keluarga mempelai laki dan mempelai wanita serta kerabat yang karib dari kedua belah pihak. 

Pernikahan dilangsungkan pada jam 8 persis di rumah Kiai Khatib Amin H. Abu Bakar disaksikan oleh beberapa alim ulama keluarga dan kerabat mempelai. Doa pernikahan diucapkan oleh KH. 

Muhammad Fadlil mertua Haji Ahmad Dahlan, bapak dari KH. M. Noor.

Selesai perhelatan perkawinan lalu dihidangkan jamuan walimahan dengan Maidah Arabiah, walaupun secara sederhana, tetapi ladzat dinikmatinya. 

Kemudian ramah tamah sampai jam 10 malam, keluarga dan kerabat sama bubar pulang dengan ahlinya ke rumah masing-masing.

Sejak itu sungguh-sungguh hidup Kiai Khatib Amin kembali hidup senang tenteram bahagia dan sejahtera, sebagai sediakala. 

Mudah-mudahan Allah SWT. senantiasa mencurahkan berkat dan rahmat dan nikmat-Nya. Amin.

Berjalan dua tahun perkawinan Kiai Khatib Amin dengan Ibu Nyai Khatib Amin yang baru ini tidak dengan disangka dan dikira semula, bahwa akan dikarunia oleh Allah SWT. putra yang sifatnya menggirangkan Haji Ahmad Dahlan, karena beliau mempunyai saudara laki yang seibu dan seayah, walaupun sebenarnya hanya seayah saja. 

Anak itu makin berumur makin menggembirakan kepada ayah dan ibunya karena sifatnya kelihatan agak lebih daripada yang lain. 

Anak itu diberi nama Muhammad Basyir. Tetapi akhirnya membikin kecewa kepada keluarga sekalian, ialah setelah anak itu meningkat umurnya menginjak tahun ke-6. 

Dengan kebijaksanaan Tuhan ditarik kembali oleh Tuhan, hendaknya tidak memfitnah di kelak kemudian hari (wafat) dalam tahun itu.

Sepeninggal putranya Rd. Muhammad Basyir, ayah dan bundanya kelihatan susah hatinya, tetapi untunglah di sampingnya ada Haji Ahmad Dahlan yang dapat menghibur, sehingga dengan sedikit kesusahan itu lekas menjadi ridha.

Walaupun Haji Ahmad Dahlan tidak kurang cakap dan cukup memuaskan untuk berbakti melayani kepada ayah bundanya, tetapi karena memang ayah sudah tua dan dianggap penyakit asma, sudah barang tentu kesehatannya makin hari menjadi makin kurang. 

Sehingga beberapa hari beliau menderita sakit yang pada kelihatannya ringan saja, tetapi sakit itu membawa akhir hayat beliau dengan ...

Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment