TERBARU


Bagian ke-3 Biografi KH. Ahmad Dahlan


Kiai Haji Ahmad Dahlan Diangkat Menjadi Khatib Amin Menggantikan Ayahnya


Dengan wafatnya Kiai Khatib Amin Haji Abu Bakar, umat Islam penduduk kota Yogyakarta kehilangan guru besar yang saleh. Innallillahi wa inna ilaihi rajiun. 

Tentu saja suasana kota Yogyakarta buat kaum Muslimin pada umumnya menjadi heboh karenanya. 

Jenazah Kiai Khatib Amin mendapat perhatian dari umum dan mendapat penghormatan yang cukup dari segala golongan, teristimewa para bangsawan Keraton Yogyakarta.

Jenazahnya, setelah dishalati di Masjid Besar Yogyakarta, lalu dimakamkan di pemakaman Nitikan Yogyakarta, satu makam dengan ayahnya Kiai Haji Sulaiman. 

Dan beratus-ratus pula kaum Muslimin yang menghadiri bertahlil pada tiap-tiap malam sampai tujuh malam.

Memang lazim secara adat istiadat Keraton Yogyakarta bilamana salah seorang abdinya yang meninggal dunia, maka anakanda lelaki yang sulung diangkat sebagai gantinya, menduduki akan kedudukan ayahnya yang meninggal itu dengan menerima tugas dan belanja serta sawah dan tanah tempat tinggal bekas yang ditempati ayahnya. 

Adapun Haji Ahmad Dahlan diangkat menjadi ganti ayahandanya, dengan diberi nama Khatib Amin Haji Ahmad Dahlan.

Tugas KH. Ahmad Dahlan sebagai Khatib

* Khutbah Jumat saling berganti dengan kawannya delapan orang khatib.

* Piket di serambi masjid dengan kawan-kawannya enam orang tiap sekali seminggu.

* Menjadi anggota raad agama Islam Hukum Keraton.

* Lain-lain yang tertentu dan tidak tentu.

Dengan pengangkatan itu KH. Ahmad Dahlan mengalami hidup baru sebagai pegawai dalam negeri karena jabatannya. 

Tetapi walaupun demikian, beliau ini tidak mengubah sikapnya terhadap orang lain dalam masyarakat.

Dengan pengangkatan beliau menjadi khatib, maka terpaksa beliau menginjak halaman hidup baru sebagai pejabat resmi yang mempunyai tugas sebagai di bawah ini.

Tugas-tugas itu oleh KH. Ahmad Dahlan digunakan untuk mengamalkan ilmunya dan di waktu piket di serambi Masjid Besar digunakan untuk memberi pelajaran kepada mereka yang tidak dapat belajar di surau-surau tempat pengajian yang tetap waktunya, di waktu pagi, siang dan sore, karena desakan ekonominya serta mereka itu memang biasa tidur atau istirahatnya di serambi itu. 

Kesempatan yang demikian itu (piket/coos) tidak digunakan oleh para khatib yang lain kecuali oleh Khatib Amin Haji Ahmad Dahlan. Karena piket di serambi Masjid Besar itu tidak ada pekerjaan yang pasti kecuali muadzin dan merbot (tukang sapu).

Sifat Kiai Haji Ahmad Dahlan


KH. Ahmad Dahlan walaupun wujud pribadinya masih muda, tetapi karena memang sudah luas pengetahuannya dan memang sudah sering membantu pekerjaan mengajar (membaca kitab) almarhum ayahnya di kala ada halangan (ta’dzur) terhadap murid-murid ayah yang sepintar dan lebih tua dari beliau, jadi diangkat sebagai Khatib pengganti kedudukan ayahnya itu tidak menjadi kebanggaan (tafakhur) bagi KH. Ahmad Dahlan.

Memang KH. Ahmad Dahlan sejak mulai kecil sudah memiliki tabiat yang halus dan lemah lembut serta sabar dan suka mengalah, asal tidak menyinggung hukum agama yang merugikan.

Berani mengubah adat istiadat yang bertentangan dengan agama, walaupun sudah berlaku sejak di masa yang lampau oleh orang-orang tua kita, dengan cara yang bijaksana.

KH. Ahmad Dahlan orang yang kuat hati, teguh pendiriannya berdiri di atas keyakinan imannya, berani tanggung jawab atas segala perbuatannya yang benar bagi agama, walaupun berakibat merugikan kepada pribadinya sendiri. 

Beliau seorang alim yang sudah merasa dan mengakui bahwa dirinya telah menduduki kursi ulama yang harus penuh tanggung jawab atas rakyat umatnya di sisi Allah SWT. tentang baik buruknya dan sesak serta benar agamanya.

Dan merasa tersentuh oleh kata-kata Imam Ghazali dalam kitabnya yang dirasa tepat benar (logis), yaitu Fasaddul ‘iyali min fasadil muluk wa fasadil muluki min ‘ulamaissuyu. 

Rakyat, raja, dan pembesar kepala negara sama rusak susilanya, apalagi jika agama ketauhidannya, sudah bejat sama sekali, sehingga Islam tinggal nama, Al-Qur'an dan kitab-kitabnya tinggal tulisannya. 

Perbuatan maksiat merajalela meliputi masyarakat dari segala tingkat, namun para ulama/kiai masih tetap mengakui sebagai ulama yang saleh. 

Perkataan Imam Ghazali diakui kebenarannya, tetapi nama ulama usy-syuk dibikin buang-buangan oleh para ulama di antara satu sama lain dengan timbal balik.

Ulama yang saleh itu sama menunjukkan kesalehannya, dengan tiada suka menuntut kehidupan dunia dengan usaha, tetapi malah menunjukkan kesufannya kepada para murid-murid, khususnya dan kepada kaum Muslimin umumnya, yang akibatnya menjadi sasaran sedekah, zakat dan hadiah.

Perjuangan Kiai Haji Ahmad Dahlan Soal Kiblat


Setelah diselidiki keadaan merosotnya umat manusia, terutama umat Islam dalam agamanya, sehingga shalat lima waktu hanya merupakan “shalat gambar” saja, artinya shalat yang tidak ada bekasnya, karena shalatnya hanya mengikuti adat istiadat orang tuanya yang telah lampau di masa yang lalu, sehingga shalat itu hanya dipandang sebagai adat istiadat Islam yang tidak berjiwa agama. 

Terbukti pada keadaan yang terjadi di masa yang lalu, ialah masjid di tanah Jawa banyak yang pembangunannya tidak didasarkan pada kepentingan agama, tetapi didasarkan pada kerapihan pembangunan negara. 

Ternyata bahwa keadaan masjid itu kiblatnya tidak tepat ke arah Masjidil Haram di Mekkah, tetapi bangunan Masjid itu kebanyakan mengikuti rentetan jalan yang sudah ada. 

Malah ada masjid yang menghadap ke arah timur laut, dan kiblatnya ke arah barat daya.

Karena jalan besar yang mukanya membujur dari timur ke barat laut, tidak dari selatan ke utara menurut petunjuk kompas. 

Ada juga masjid yang kiblatnya tepat ke arah Masjidil Haram di Mekkah, yaitu masjid yang kuno-kuno seperti masjid di Demak, daerah Semarang, masjid di Pasar Gede masjidnya Ki Panembahan Senopati di Yogyakarta. 

Dan mungkin Masjid Ngampel di Surabaya dan lain-lain, tetapi tidak banyak. Selama itu kiblat masjid yang demikian itu tidak menjadi perhatian oleh kaum Muslimin pada umumnya.

Padahal shalat lima waktu, adalah tiang besar bagi agama Islam dan sumber agung amal saleh bagi umat Islam. 

Oleh karena itu, KH. Ahmad Dahlan sebagai orang yang ahli dalam ilmu falak (cakrawala) mengetahui benar dengan keyakinan bahwa masjid-masjidnya kaum Muslimin di Indonesia pada umumnya dan di tanah Jawa pada khususnya, banyak yang kiblatnya tidak tepat menuju ke arah Masjidil Haram di Mekkah.

Oleh karena itu, beliau bersungguh-sungguh berusaha dengan sekuat tenaga dan pikirannya untuk membenarkan kiblat shalatnya kaum Muslimin Indonesia dalam masjid-masjidnya, terutama di Yogyakarta. 

Beliau mengetahui bahwa akan memecahkan soal kiblat itu bukan soal ringan dan mudah. Tetapi soal yang berat dan sulit, dan mungkin menimbulkan heboh umat Islam yang tidak diinginkan. 

Oleh karena itu, beliau harus hati-hati, awas, dan waspada. Karena para alim ulama di Indonesia pada masa itu belum/tidak banyak yang mempunyai keahlian dalam ilmu falak (cakrawala) seperti KH. Ahmad Dahlan.

Hanya ada seorang alim yang mempunyai keahlian dalam ilmu falak di Semarang, yaitu Kiai Raden Haji Dahlan dari Termas, Pacitan dan seorang lagi ialah Syaichul Ilam yang diangkat oleh Belanda yaitu Sayid Usman Al-Habsyi di Batavia. 

KH. Ahmad Dahlan tentu merasa cemas akan memecahkan soal kiblat di Yogyakarta, karena ia akan menghadapi para ulama yang masih buta dalam ilmu falak dan kekuasaan agama yang hanya diserahkan kepada Hoofd Penghulu dan bawah-bawahannya yang kebanyakan agama-agama naluri wajadna Abaana.

Walaupun ada rasa cemas rasa, hatinya hendak melaksanakan maksudnya yang berat dan sulit itu. 

Tetapi karena kepentingan agama, maka berat dan sulit itu tidak dihiraukan, karena memang sudah semestinya menegakkan kebenaran agama di tengah-tengah masyarakat yang bobrok harus ada rintangan dan pengorbanan dan bencana yang hebat tetapi karena berkeyakinan bahwa tujuan itu akan berhasil dengan taufik dan hidayat Allah SWT. dengan sabar dan tawakal dikerjakan.

KH. Ahmad Dahlan mulai membuka kata-katanya tentang kiblat yang dimaksud, di pengajian orang-orang tua setempat yang gurunya Kiai Lurah H. M. Nur, seorang alim yang terkemuka di Yogyakarta, yang berwibawa dalam pandangan, serta memang mempunyai kedudukan menjadi Imam Ratib di Masjid Besar Kota Yogyakarta, sebagai lurah (kepala) berjamaah di Masjid Besar tersebut. 

Serta pula memang tempat kediamannya menjadi pusat pesantren yang ramai sekali.

Yang dimaksud Hari Besar Islam pada waktu itu, bukanlah Hari Besar Islam yang diresmikan oleh Pemerintah Indonesia sekarang ini. 

Tetapi hari besar itu biasa dirayakan dengan membaca kitab yang menerangkan maziah-maziahnya dua hari besar itu dan betapa besar pahalanya orang yang beramal baik di hari itu. 

Dan perayaan itu dihabisi dengan jamuan besar, yaitu kebuli samin made in Arabia yang dengan memotong beberapa ekor kambing yang dibiayai dengan urunan yang pada tiap-tiap orang sedikitnya 0,5 gulden dan banyaknya tidak terbatas. 

Perayaan yang demikian itu biasanya dapat perhatian besar sekali dari penduduk santri dari luar Kampung Kauman, umpamanya dari Karangkajen, Pakualaman, Lempuyangan, dan Kadipaten.

Di situlah tempat meletakkan maksud KH. Ahmad Dahlan yang diucapkan oleh Kiai Lurah Haji Muhammad Noor terhadap mereka para undangan dengan secara bil hikmat wal mauidzotil hasanah sebagai permakluman saja, dengan kata-katanya, 

“Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudara-saudara hadirin yang terhormat, di sini saya maklumkan kepada saudara-saudara sekalian, bahwa berhubung perayaan Nisfu Sya’ban (15 Ruwah) yang mulia dan perayaan hari Asyura (10 Muharram) yang bersejarah, yang telah sekian tahun berjalan, ternyata bertambah yang hadir sehingga surau yang tidak kecil itu sampai meluap-luap tidak mencukupi untuk kita semua duduk di surau, malah lebih banyak yang duduk di tikar di atas tanah. 

Oleh karena itu, dimajukan saran (usul) oleh Tibamin, ‘Hendaknya surau itu dibesar dan panjangkan, serta diperindah dan kiblatnya ditujukan ke arah Masjidil Haram di Mekkah, sehingga dapat mencukupi bila kita duduk di surau semua bilamana kita mengadakan perayaan Nisfu Sya’ban dan Asyura seperti sekarang ini. 

Adapun biaya untuk itu akan didapat dari barangsiapa saja di antara para undangan yang suka menderma sebagai amal jariyah yang tidak akan putus-putus pahalanya sampai hari kemudian. Yang nanti akan diputarkan list derma kepada Saudara-saudara’.”

¹ KH. Ahmad Dahlan dan KH. Lurah Nur adalah kakak ipar dari KH. Ahmad Dahlan. Tibamin adalah nama pangkatnya KH. Ahmad Dahlan sebagai Khatib Amin. Sebutan samparan kakak kepada adik.

B e r s a m b u n g

Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment