Biografi KH. Ahmad Dahlan dari Sumber Terpercaya
0 minutes read
Riwayat Hidup Kiai Haji Ahmad Dahlan, Pembina Muhammadiyah
Oleh H. Muhammad Sudja'
(Diolah dari buku berjudul "Cerita tentang Kiai Haji Ahmad Dahlan, Catatan Haji Muhammad Sudja'" yang merupakan murid/santri KH. Ahmad Dahlan)
Kiai Haji Ahmad Dahlan bin Kiai Haji Abu Bakar, Imam Khatib Masjid Besar Kota Yogyakarta (sebagai Lurah Berjamaah), pernah diutus oleh Sri Sultan Hamengku Buwana VII pergi ke Makkah untuk menghajikan almarhum Sri Sultan Hamengku Buwana VI, ayahandanya.
Sebelum itu, beliau dinaikkan pangkatnya lebih dahulu sebagai khatib (ketib) dengan nama Khatib Amin Haji Abu Bakar bin Kiai Haji Murtadho Alim, yang tertua dan terkenal (masyhur) di daerah Yogyakarta.
Ibu K.H. Ahmad Dahlan bernama Siti Aminah binti almarhum Kiai Haji Ibrahim, Penghulu Besar di Yogyakarta.
K.H. Ahmad Dahlan dilahirkan di Kampung Kauman, Kota Yogyakarta, pada 1869 Masehi. K.H. Ahmad Dahlan bersaudara sekandung dengan lima orang wanita. Semuanya bersuami.
Sulungnya kawin dengan K.H. Khatib Arum di Kauman. Kedua, kawin dengan K.H. Muhsin dari Pasar Gede (Kota Gede) Yogyakarta. Ketiga, kawin dengan K.H. Muhammad Saleh. Keempat, K.H. Ahmad Dahlan sendiri. Kelima, kawin dengan K.H.
Muhammad Faqih dari Kauman Yogyakarta, dan bungsu kawin dengan K.H. Abdurrahman bin Abdullah, Pakualaman, Yogyakarta.
Pendidikan Kiai Haji Ahmad Dahlan
Di waktu kecilnya, K.H. Ahmad Dahlan bernama Muhammad Darwis. Permulaan pendidikannya ada di pangkuan ayahandanya, K.H. Abu Bakar, di rumah sendiri.
Karena tampak Muhammad Darwis mempunyai sifat yang baik dan budi pekertinya halus, hatinya lunak, tetapi wataknya cerdas, ayah bundanya pun sangat menyayanginya karena hanya dialah anak laki-laki mereka.
Ketika Muhammad Darwis menginjak usia delapan tahun, ia bisa membaca Al-Qur'an dengan lancar sampai khatam.
Pada saat itu Muhammad Darwis memang seorang yang punjuling ngapak, cerdas pikirannya sehingga dapat memengaruhi kawan-kawannya sepermainan dan mengatasi segala permainan kawan-kawannya.
Setelah hampir dewasa, Muhammad Darwis mulai membuka kitab dengan mengaji kepada K.H. Muhammad Saleh untuk menuntut ilmu fikih.
Kepada K.H. Muhsin, ia menuntut ilmu nahwu. Kedua guru tersebut merupakan kakak ipar yang bertempat tinggal berdampingan dalam satu kampung.
Pelajaran lain-lainnya ia peroleh dengan berguru kepada ayahandanya sendiri. Ia juga berguru kepada K.H. Muhammad Noor bin K.H. Fadil, Hoofd Penghulu Hakim Kota Yogyakarta, dan K.H. Abdulhamid di Kampung Lempuyangan Wangi, Yogyakarta.
Muhammad Darwis Dewasa
Sehari demi sehari menjadi bulan, dari bulan ke bulan menjadi tahun. Muhammad Darwis telah menginjak usia dewasa.
Sudah tentu ia merasa tidak layak lagi bermain-main dengan kawan-kawannya sejak kecil. Apalagi Muhammad Darwis merupakan anak yang rajin, pandai mengatur diri dan alat-alat belajarnya, sehingga waktu untuk bermain-main tidak ada lagi.
Sejak kecil hingga dewasa, Muhammad Darwis hidup dalam lingkungan yang aman, tenteram, dan sejahtera karena berdampingan dengan ayah bundanya serta kerabatnya yang merupakan para alim ulama.
Dengan sendirinya, Muhammad Darwis mempunyai budi pekerti yang baik dan akhlak yang murni.
Muhammad Darwis Kawin
Ayah bundanya tidak lepas pandangan dalam menjaga putranya yang disayangi itu.
Muhammad Darwis telah menginjak umur 18 tahun. Ayah bundanya ingin mengawinkannya dengan putri Kiai Haji Muhammad Fadlil, Hoofd Penghulu Hakim di Yogyakarta, yang bernama Siti Walidah.
Setelah perundingan orang tua dari kedua pihak mendapatkan persetujuan dan peralatan secara sederhana telah lengkap, perkawinan dilangsungkan pada bulan Zulhijah 1889 Masehi dengan suasana riang gembira dan tenang.
Muhammad Darwis Pergi Haji
Berselang beberapa bulan setelah perkawinan, Muhammad Darwis yang sedang asmaranya di antara kawan sepermainan dan mengatasi segala permainan kawan-kawannya, justru menghadapi perubahan besar dalam hidupnya.
Ketika hampir dewasa, Muhammad Darwis mulai meninggalkan kebiasaan bermain-main dan lebih banyak menuntut ilmu.
Keberangkatannya ke Makkah untuk berhaji juga menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Pada mulanya, Muhammad Darwis tidak terlalu bersemangat untuk berangkat. Namun, karena dorongan ayah bundanya, ia akhirnya pergi ke Makkah.
Keberangkatan itu justru memberinya kesempatan memperluas pengetahuan, sebab Makkah merupakan tempat berkembangnya agama Islam dan menyimpan riwayat perjuangan agama sejak Nabi Ibrahim hingga Nabi Muhammad SAW.
Di sana juga bermukim banyak ulama besar dari berbagai bangsa, termasuk ulama Indonesia.
Setelah waktu keberangkatan Muhammad Darwis bin Khatib Amin Haji Abu Bakar diumumkan, sanak saudara, sahabat, dan kerabat dari jauh maupun dekat berbondong-bondong mengunjungi rumah K.H. Khatib Amin Haji Abu Bakar untuk mengucapkan selamat jalan.
Adat masyarakat Jawa pada masa itu memang menempatkan keberangkatan haji sebagai peristiwa penting, terlebih bagi keluarga ulama dan tokoh masyarakat.
Malam menjelang keberangkatan, banyak orang datang memberikan penghormatan. Mereka membacakan tahliI sebagai ungkapan doa dan selamat jalan.
Acara dilanjutkan dengan pembacaan barzanji dan bacaan lainnya hingga lewat tengah malam.
Pukul tujuh pagi, Muhammad Darwis berangkat bersama para sepuh dan kerabatnya. Mereka kembali berkumpul untuk mengantarnya menuju Stasiun Spoor Tugu.
Karena keberangkatannya, Kota Yogyakarta ramai oleh orang-orang yang hendak melepas calon jemaah haji.
Pada masa itu, perjalanan menuju Makkah merupakan perjalanan panjang dan penuh persiapan.
Muhammad Darwis berangkat menggunakan kereta api menuju Semarang, didampingi para pengantar.
Sekitar pukul setengah sepuluh, ia tiba di Stasiun Yogyakarta dan kemudian melanjutkan perjalanan dengan kereta api.
Pukul empat sore, kereta api berangkat menuju Semarang. Setibanya di kota pelabuhan tersebut, Muhammad Darwis disambut oleh masyarakat dan para sahabat yang telah menyiapkan pondokan serta berbagai keperluan selama menunggu keberangkatan kapal.
Tidak berapa hari kemudian, Muhammad Darwis bersama kawan-kawannya berangkat ke Singapura dengan menumpang kapal dagang bangsa Tionghoa.
Setelah berlayar selama tiga malam, kapal itu berlabuh di Singapura. Mereka disambut oleh Syekh Abdul Kahar di Kampung Jawa, yang membantu menerima jemaah dan barang-barang mereka serta mengurus tempat tinggal.
Beberapa hari kemudian, Muhammad Darwis dan rombongannya kembali melanjutkan perjalanan dengan menumpang kapal Mispil milik Mij Maclin Walson, yang berangkat dari Tanjung Pagar menuju Eropa melalui Aden dan Jeddah.
Lima belas hari setelah meninggalkan Tanjung Pagar, kapal tersebut tiba di Laut Merah dan menuju Pelabuhan Jeddah.
Kapal berlabuh sekitar pukul sepuluh pagi. Beberapa perahu kemudian mengangkut para jemaah dari kapal menuju pelabuhan.
Setelah turun di Pelabuhan Jeddah, rombongan disambut oleh wakil pemerintah Hijaz yang mengenakan pakaian resmi.
Mereka mengucapkan salam dan berjabat tangan dengan para jemaah haji yang baru tiba.
Para jemaah kemudian diminta masuk melalui pintu pemeriksaan dan menyebutkan asal daerah masing-masing.
Pada masa itu, setiap kota di Indonesia umumnya telah memiliki syekh yang menetap di Makkah untuk membantu para jemaah dari daerahnya.
Penduduk Yogyakarta disebut sebagai orang Mataram karena Sri Sultan Yogyakarta memiliki gedung wakaf di Makkah yang diperuntukkan bagi rakyat Mataram, baik mereka yang berhaji maupun yang menetap di sana.
Muhammad Darwis dan kawan-kawannya harus tinggal di Gedung Wakaf Mataram. Mereka juga berhubungan dengan para syekh yang bertugas mengurus jemaah dari daerah asalnya.
Karena Muhammad Darwis merupakan putra seorang khatib dan menantu penghulu besar Yogyakarta, ia memperoleh tempat yang istimewa dalam pergaulan dengan para ulama.
Rombongan Muhammad Darwis tiba di Makkah pada tanggal 25 Rajab. Mereka kemudian melaksanakan tawaf dan sai serta tahalul sebagai bagian dari ibadah umrah, lalu beristirahat sementara waktu.
Setelah itu, mereka berziarah kepada para alim ulama yang dikenal maupun yang belum dikenal, baik dari kalangan bangsa Indonesia maupun bangsa Arab.
Mereka juga menyampaikan amanat kepada orang-orang yang berhak menerimanya.
Selama Ada di Makkah
Seperti jemaah haji lainnya, Muhammad Darwis dan kawan-kawannya mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang dipandang penting. Di antaranya Ma'tsir Nabi, Maulud Ali, Jabal Qubais, Jabal Noor, dan Jabal Tsaur.
Selain rajin beribadah di Masjidil Haram, Muhammad Darwis juga mengikuti kawan-kawannya menuntut ilmu kepada para alim ulama bangsa Indonesia yang telah lama bermukim di Makkah serta ulama Arab yang dikenal oleh orang tuanya.
Pada bulan Ramadan, banyak ulama membaca kitab di Masjidil Haram sejak pagi hingga siang.
Sementara itu, sebagian ulama Indonesia lebih banyak membaca kitab di rumah pada malam hari.
Di antara ulama Indonesia yang disebut dalam catatan tersebut ialah K.H. Makhfudz dari Termas, K.H. Nakhravi dari Banyumas, K.H. Muhammad Nawawi dari Banten, serta sejumlah ulama Arab yang telah dikenal.
Selama bulan Syawal, setelah hari raya Idulfitri, para jemaah haji pada umumnya berziarah kepada para Imam Syafi'i untuk memperoleh ijazah dan mengganti nama dengan nama Arab yang ditambah kata Haji.
Muhammad Darwis pun mengikuti kebiasaan tersebut. Ia juga berziarah kepada Imam Syafi'i dan memperoleh nama Haji Ahmad Dahlan.
Sesudah menyelesaikan hari-hari di Arafat dan menunaikan kewajiban ibadah haji, Haji Ahmad Dahlan tidak berapa lama lagi tinggal di Makkah. Ia kemudian bersiap untuk pulang ke tanah air.
Pada akhir bulan haji, Haji Ahmad Dahlan dan kawan-kawannya kembali menuju Jeddah. Dari sana mereka melanjutkan perjalanan pulang dengan kapal yang sama.
Pada permulaan perjalanan pulang, rombongan Haji Ahmad Dahlan dan kawan-kawannya telah sampai di pelabuhan Semarang.
Mereka disambut oleh kerabat dan keluarga yang telah menunggu kedatangan mereka.
Karena pada masa itu perjalanan haji masih dipandang sebagai perjalanan besar dan keramat, kedatangan seorang jemaah haji menjadi peristiwa penting bagi keluarga maupun masyarakat.
Sanak saudara dan para pemuda mempersiapkan kendaraan kuda untuk menjemput Haji Ahmad Dahlan di Stasiun Yogyakarta.
Haji Ahmad Dahlan tiba di Stasiun Yogyakarta sekitar pukul dua belas siang. Kedatangannya disambut dengan suasana gembira dan meriah.
Para pengantar yang telah menunggu menyambutnya, sementara keluarga dan masyarakat berdatangan untuk memberikan penghormatan.
Sesampainya di Kampung Kauman, Haji Ahmad Dahlan dan kawan-kawannya turun dari kereta menuju rumah Hoofd Penghulu.
Mereka kemudian menyampaikan salam takzim kepada para ulama dan kerabat yang telah menunggu kedatangan mereka.
Kegembiraan mengantar dan menyongsong orang yang pergi serta pulang dari haji pada masa itu masih begitu besar.
Perjalanan haji berlangsung selama berbulan-bulan dan memerlukan biaya serta persiapan yang tidak sedikit.
Haji Ahmad Dahlan tidak tinggal lama di tanah suci dibandingkan sebagian jemaah lainnya.
Namun, ketekunannya belajar selama berada di Makkah membuatnya membawa bekal pengetahuan yang cukup untuk dikembangkan setelah kembali ke tanah air.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya sebelum kelak dikenal sebagai tokoh pembaru Islam dan pendiri Muhammadiyah.
Lanjutkan Baca ... BAGIAN 2
Catatan penyuntingan:
Tulisan di atas disusun berdasarkan buku berjudul Cerita tentang Kiai Haji Ahmad Dahlan, Catatan Haji Muhammad Sudja' yang merupakan murid/santri KH. Ahmad Dahlan dengan perbaikan ejaan, tanda baca, dan susunan paragraf.
Sejumlah istilah lama dipertahankan agar nuansa sumber tetap terjaga. Untuk membaca versi lengkapnya, bisa dibaca langsung dari buku versi cetaknya.

